04 Januari 2014

Surat untuk Sang Mantan


Tak selayaknya aku kembali membuka lembaran lama antara aku dan dirimu, bukan karna aku ingin mengurai kembali masa-masa indah bersamamu atau mengingat  kembali duka yang akhirnya membuat kita harus berpisah. Meskipun kita telah lama ditakdirkan untuk saling mengenal, tapi takdir lain belum mempertemukan kita. Aku yakin kita akan bertemu meskipun bukan di dunia, akhirat pasti akan mempertemukan aku denganmu. Yah, Kita akan bersama-sama mempertanggungjawabkan perbuatan yang telah kita berdua lakukan. Maafkan aku jika kebodohanku telah membuat kita terjerumus dalam perbuatan yang sia-sia. Aku mengakui kekhilafanku saat kamu datang menawarkan cintamu, sejujurnya saat itu aku sangat rapuh. Aku tidak memiliki kekuatan untuk menolakmu, aku juga ragu atas keputusanku untuk menerimamu. Tapi apalah daya aku gadis rapuh yang memiliki iman setipis kulit ari, tak ada pilihan lain selain mengikuti tawaranmu.
Aku sangatlah bodoh kala itu, kebodohanku membuatku tidak sadar hawa nafsu telah mempermainkanku, menginjak-injak prinsipku. Aku mau dibuai janji-janji dan kata-kata manis bahkan aku juga ikut merangkai kata-kata manis untuk membuktikan  bahwa aku juga mencintaimu. Aku menjadi gadis galau, menjadi gadis pemimpi, memimpikan aku denganmu kapan akan bertemu. Setiap hari aku selalu menunggu telfon dan sms, karena itulah jalan pelepas gundah dihatiku. Tanpa ku sadari telah begitu banyak waktu kulewati untuk menunggu dan berapa  habis pulsa untuk menghubungimu. Tak ada yang terbukti kecuali kesia-siaan. Ya,  apa yang ku tunggu ternyata hanyalah penantian kosong.
Begitu panjang waktu yang kugunakan untuk menunggumu, tapi tahukah kamu disaat aku menunggumu aku juga berusaha untuk melupakanmu, berusaha mengakhiri hubungan kita yang hanyalah kesia-sian belaka. Begitu susah untuk mengakhirinya seakan batin ini telah terikat. Aku begitu menderita kala itu, aku hidup diatas penantian. Tiada yang bisa kulakukan selain menunggumu, membiarkan hati tersiksa. Aku membiarkan tembok-tembok kamar terus mengejekku, meja belajar mencomohku, jam dinding mentertawakanku seakan berkata, “sampai kapan kamu akan menunggu, jarumku terus berputar dan berkata inginkah kamu habiskan waktu untuk menunggu seseorang yang tidak pasti”.
Entah apa yang terjadi saat itu, hingga akhirnya hubungan kita berakhir dengan kata-kata menusuk hati. Meskipun ada yang bilang kamu tidak setia kamu memiliki orang lain yang kamu cintai, kamu berubah. Entahlah, aku hanya bisa menangis saat itu, sejujurnya aku menangis bukan karna perbuatanmu, tapi aku menangisi kebodohanku. Aku baru sadar aku telah berani bermain api, dan akhirnya akupun terbakar. Tidak kusesali perbuatanmu padaku tidak kusesali ketika pertemuanku denganmu tidak pernah terjadi tapi yang kusesali adalah waktu yang ku habiskan untuk melakukan kesia-siaan.
Kerapuhanku saat itu belum berakhir, begitu banyak waktu yang kubutuhkan untuk mengobati sesal dihati. Kamupun datang dan pergi  dalam hidupku, kedatanganmu seakan membuktikan begitu bodohnya diriku selama ini. Aku tertipu untuk kesekian kalinya oleh kata-katamu. Mungkin kamu saat itu tertawa lepas mentertawakan aku, gadis bodoh yang dengan mudahnya kamu bodohi. Saat itu aku menilaimu seorang yang kejam  tega dengan sesuka hatimu mempermainkan hatiku.
Sekali lagi maafkan aku, bukan maksudku menyalahkan dan  merendahkanmu. Kutuliskan semua ini adalah bentuk terimaksihku. Kamu pasti tidak tahu, kalau aku telah banyak belajar dari setiap dusta yang kamu katakan. Aku mengambil hikmah dari setiap duka yang engkau berikan, hikmah yang jauh lebih berkesan dibanding lelahku menunggu pertemuan denganmu. Mungkin kamu berfikir kisah kita adalah hal biasa tak ada makna, mungkin Kisahmu dengan gadis-gadis lain lebih indah dan pantas dikenang. Tak ada sejarah yang mencatat pertemuan kita, dan tidak akan ada karena memang kita belum pernah bertemu. Sungguh aku sangat bersyukur, ketika pasangan kekasih lain bertemu mereka saling bergandengan tangan, bermesran dan entah apalagi yang mereka lakukan. Namun, lain halnya aku denganmu, kita adalah sepasang kekasih yang jangankan berpegangan tangan bertemu lansung saja tidak pernah. Allah SWT, menjagaku dan menjagamu tidak rasa sesal yang mendalam saat aku harus mengakhiri hubungan denganmu. Karena aku tidak pernah menyerahkan kulitku untuk disentuh olehmu, rambutku dibelai oleh tanganmu, tanganku digenggam oleh tanganmu. Mungkin gadis lain akan senang jika disentuh oleh kekasihnya, tapi akan merasa geli jika ada pria yang menyentuhku. Aku bukanlah gadis bersih tanpa dosa, tapi aku adalah gadis yang tak akan rela disentuh oleh pria.
Saat aku tahu latar belakang keluargamu, jujur aku mulai merasa kalau kita berbeda. Apalagi saat aku mendegar cara bicaramu dan hal-hal lain yang engkau ceritakan padaku, serasa ada nada pamer disana. Tahukah kamu bahwa aku bukanlah gadis yang senang dan gila dan dengan apa yang kamu miliki. Ketika aku menerimamu karena aku tahu kamu memiliki pemaham agama yang baik, kamu rajin sholat, rajin ke mesjid dan berbakti kepada orang tua itulah sebabnya mengapa aku setia menunggumu.
Ternyata pemahaman agama saja tidak cukup, shalat saja tidak mampu membentengi kita berdua dari kata-kata hampa. Tapi tahukah kamu, mengenalmu telah menyadarkanku pandai agama, rajin sholat, rajin kemesjid atau bahkan menjadi imam tidak cukup menjamin seseorang bisa bertanggungjawab dengan kata-kata dan perbuatannya. Jusrtu saat ini aku bertanya pada diriku sendiri, pahamkah kamu tentang agama, khusyu kah shalat yang kamu dirikan, tulus kah langkah yang kamu ayunkan tiap kali kemesjid? Maaf  jika aku berkata seperti itu, karena saat ini aku yang pahami bahwa seseorang yang taat pada agamanya dan rajin beribadah mana mungkin berani melanggar ajaran agama, bahkan menyakiti hati mahkluk ciptaan sang Maha Pencipta. Mungkinkah kamu yang tahu tentang agama berani berkata dusta dan mengumbar janji-janji palsu? Aku menyadari betapa banyak tipe pria sepertimu dan akupun tidak perlu kagum dan bangga jika ada pria sepertimu dihadapanku karena aku telah belajar darimu. Aku sadar tidak semua pria seperti itu, tapi mengenalmu telah mengajarkanku tentang kewaspadaan menjaga hati, mawas diri terhadap perilaku yang mungkin baik diluarnya saja.
Jika kata-kata yang kutilskan bernada kasar atau menyinggung, maafkanlah aku semua yang tertulis fakta dari perasaan yang aku rasakan. Memanglah aku bukan gadis yang memiliki kebaikan akhlak yang sempurna dan pemahaman agama yang bagus. Aku juga baru belajar, belajar dari setiap pengalaman yang telah terlewati. Aku baru menitih kembali langkahku yang sempat jatuh dan terpuruk dalam lumpur dosa. Hari-hari yang kulewati bersamamu setidaknya telah menjadi pelajaran berharga yang akan terus menjadi alarm  setiap langkahku. Agar aku tidak terjatuh kembali kedalam lubang yang sama.
Surat untuk sang mantan judul yang kutulisakan demi mengawali semua baris demi baris kalimat yang kurangkangai sebagai ucapan permohonan maaf dan ucapan terimaksih karena telah mengajarkanku sebuah pelajaran yang sangat berharga yang tidak kudapatkan dengan orang lain. Meskipun kita belum bertemu, memohon maaf setiap salah dan khilaf yag telah kulakukan untukmu kuharap semua yang kutuliskan ini dapat mewakili permohonan maafku untukmu. Di manapun kamu saat ini, dengan siapapn  hatimu kamu tambatkan, ku berdoa semoga kamu dapat menemui jalan yang seperti jalan yang ketemui saat ini. Jalan di mana kebahagiaan bisa diraih tanpa harus melanggar perintah-Nya. Dan inilah memang kebahagiaan yang sesungguhnya. Belajarlah dengan baik jangan lupakan akhiratmu, kita tidak selamanya hidup didunia. Menyesalah hari ini, sebelum hari esok tak ada lagi, menangislah karena kesalahan yang telah diperbuat. Jangan berbangga diri dengan apa yang kamu miliki saat ini dan apa yang akan kamu raih nanti. Teruslah berkarya sahabat, tetapi jangan lupakan Allah SWT. tak ada artinya jika semua yang kamu raih tanpa Ridho-Nya. Semoga bimbingngan-Nya selalu menyertaimu tak perlu ragu dengan hari esok, selama masih ada malam yakinlah pasti akan ada fajar yang menyingsing menyambut datangnya mentari pagi. Tak perlu ragu dengan rezeki, selama masih ada kehidupan pasti akan selalu ada harapan. Tak perlu silau dengan glamornya dunia, karena semua hanya kefanaan belaka. Berjalanlah terus sahabat, aku akan mengenangmu sebagai guru dalam kehidupanku.
Thanks for all


Tidak ada komentar:

Posting Komentar