Tak selayaknya aku
kembali membuka lembaran lama antara aku dan dirimu, bukan karna aku ingin
mengurai kembali masa-masa indah bersamamu atau mengingat kembali duka yang akhirnya membuat kita harus
berpisah. Meskipun kita telah lama ditakdirkan untuk saling mengenal, tapi
takdir lain belum mempertemukan kita. Aku yakin kita akan bertemu meskipun
bukan di dunia, akhirat pasti akan mempertemukan aku denganmu. Yah, Kita akan bersama-sama mempertanggungjawabkan perbuatan yang telah kita berdua lakukan. Maafkan
aku jika kebodohanku telah membuat kita terjerumus dalam perbuatan yang
sia-sia. Aku mengakui kekhilafanku saat kamu datang menawarkan cintamu,
sejujurnya saat itu aku sangat rapuh. Aku tidak memiliki kekuatan untuk
menolakmu, aku juga ragu atas keputusanku untuk menerimamu. Tapi apalah daya
aku gadis rapuh yang memiliki iman setipis kulit ari, tak ada pilihan lain
selain mengikuti tawaranmu.
Aku sangatlah bodoh kala itu, kebodohanku membuatku tidak sadar hawa nafsu telah mempermainkanku,
menginjak-injak prinsipku. Aku mau dibuai janji-janji dan kata-kata manis
bahkan aku juga ikut merangkai kata-kata manis untuk membuktikan bahwa aku juga mencintaimu. Aku menjadi gadis
galau, menjadi gadis pemimpi, memimpikan aku denganmu kapan akan bertemu.
Setiap hari aku selalu menunggu telfon dan sms, karena itulah jalan pelepas
gundah dihatiku. Tanpa ku sadari telah begitu banyak waktu kulewati untuk
menunggu dan berapa habis pulsa untuk
menghubungimu. Tak ada yang terbukti kecuali kesia-siaan. Ya, apa yang ku tunggu ternyata hanyalah
penantian kosong.
Begitu panjang waktu
yang kugunakan untuk menunggumu, tapi tahukah kamu disaat aku menunggumu aku
juga berusaha untuk melupakanmu, berusaha mengakhiri hubungan kita yang
hanyalah kesia-sian belaka. Begitu susah untuk mengakhirinya seakan batin ini
telah terikat. Aku begitu menderita kala itu, aku hidup diatas penantian. Tiada
yang bisa kulakukan selain menunggumu, membiarkan hati tersiksa. Aku membiarkan
tembok-tembok kamar terus mengejekku, meja belajar mencomohku, jam dinding
mentertawakanku seakan berkata, “sampai kapan kamu akan menunggu, jarumku terus
berputar dan
berkata inginkah kamu habiskan waktu untuk menunggu seseorang yang tidak pasti”.
Entah apa yang terjadi
saat itu, hingga akhirnya hubungan kita berakhir dengan kata-kata menusuk hati.
Meskipun ada yang bilang kamu tidak setia kamu memiliki orang lain yang kamu
cintai, kamu berubah. Entahlah, aku hanya bisa menangis saat itu, sejujurnya
aku menangis bukan karna perbuatanmu, tapi aku menangisi kebodohanku. Aku baru
sadar aku telah berani bermain api, dan akhirnya akupun terbakar. Tidak
kusesali perbuatanmu padaku tidak kusesali ketika pertemuanku denganmu tidak
pernah terjadi tapi yang kusesali adalah waktu yang ku habiskan untuk melakukan
kesia-siaan.
Kerapuhanku saat itu
belum berakhir, begitu banyak waktu yang kubutuhkan untuk mengobati sesal
dihati. Kamupun datang dan pergi dalam hidupku, kedatanganmu seakan membuktikan
begitu bodohnya diriku selama ini. Aku tertipu untuk kesekian kalinya oleh
kata-katamu. Mungkin kamu saat itu tertawa lepas mentertawakan aku, gadis bodoh
yang dengan mudahnya kamu bodohi. Saat itu aku menilaimu seorang yang kejam tega dengan sesuka hatimu mempermainkan
hatiku.
Sekali lagi maafkan
aku, bukan maksudku menyalahkan dan
merendahkanmu. Kutuliskan semua ini adalah bentuk terimaksihku. Kamu
pasti tidak tahu, kalau aku telah banyak belajar dari setiap dusta yang kamu
katakan. Aku mengambil hikmah dari setiap duka yang engkau berikan, hikmah yang
jauh lebih berkesan dibanding lelahku menunggu pertemuan denganmu. Mungkin kamu
berfikir kisah kita adalah hal biasa tak ada makna, mungkin Kisahmu dengan
gadis-gadis lain lebih indah dan pantas dikenang. Tak ada sejarah yang mencatat
pertemuan kita, dan tidak akan ada karena memang kita belum pernah bertemu.
Sungguh aku sangat bersyukur, ketika pasangan kekasih lain bertemu mereka
saling bergandengan tangan, bermesran dan entah apalagi yang mereka lakukan.
Namun, lain halnya aku denganmu, kita adalah sepasang kekasih yang jangankan
berpegangan tangan bertemu lansung saja tidak pernah. Allah SWT, menjagaku dan
menjagamu tidak rasa sesal yang mendalam saat aku harus mengakhiri hubungan
denganmu. Karena aku tidak pernah menyerahkan kulitku untuk disentuh olehmu,
rambutku dibelai oleh tanganmu, tanganku digenggam oleh tanganmu. Mungkin gadis
lain akan senang jika disentuh oleh kekasihnya, tapi akan merasa geli jika ada
pria yang menyentuhku. Aku bukanlah gadis bersih tanpa dosa, tapi aku adalah
gadis yang tak akan rela disentuh
oleh pria.
Saat aku tahu latar
belakang keluargamu, jujur aku mulai merasa kalau kita berbeda. Apalagi saat
aku mendegar cara bicaramu dan hal-hal lain yang engkau ceritakan padaku,
serasa ada nada pamer disana. Tahukah kamu bahwa aku bukanlah gadis yang senang
dan gila dan dengan apa yang kamu miliki. Ketika aku menerimamu karena aku tahu
kamu memiliki pemaham agama yang baik, kamu rajin sholat, rajin ke mesjid dan
berbakti kepada orang tua itulah sebabnya mengapa aku setia menunggumu.
Ternyata pemahaman
agama saja tidak cukup, shalat saja tidak mampu membentengi kita berdua dari
kata-kata hampa. Tapi tahukah kamu, mengenalmu telah menyadarkanku pandai
agama, rajin sholat, rajin kemesjid atau bahkan menjadi imam tidak cukup
menjamin seseorang bisa bertanggungjawab dengan kata-kata dan perbuatannya.
Jusrtu saat ini aku bertanya pada diriku sendiri, pahamkah kamu tentang agama,
khusyu kah shalat yang kamu dirikan, tulus kah langkah yang kamu ayunkan tiap
kali kemesjid? Maaf jika aku berkata
seperti itu, karena saat ini aku yang pahami bahwa seseorang yang taat pada
agamanya dan rajin beribadah mana mungkin berani melanggar ajaran agama, bahkan
menyakiti hati mahkluk ciptaan sang Maha Pencipta. Mungkinkah kamu yang tahu
tentang agama berani berkata dusta dan mengumbar janji-janji palsu? Aku
menyadari betapa banyak tipe pria sepertimu dan akupun tidak perlu kagum dan
bangga jika ada pria sepertimu dihadapanku karena aku telah belajar darimu. Aku
sadar tidak semua pria seperti itu, tapi mengenalmu telah mengajarkanku tentang
kewaspadaan menjaga hati, mawas diri terhadap perilaku yang mungkin baik diluarnya saja.
Jika kata-kata yang
kutilskan bernada kasar atau menyinggung, maafkanlah aku semua yang tertulis
fakta dari perasaan yang aku rasakan. Memanglah aku bukan gadis yang memiliki
kebaikan akhlak yang sempurna dan pemahaman agama yang bagus. Aku juga baru
belajar, belajar dari setiap pengalaman yang telah terlewati. Aku baru menitih
kembali langkahku yang sempat jatuh dan terpuruk dalam lumpur dosa. Hari-hari
yang kulewati bersamamu setidaknya telah menjadi pelajaran berharga yang akan
terus menjadi alarm
setiap
langkahku. Agar aku tidak terjatuh kembali kedalam lubang yang sama.
Surat untuk sang mantan
judul yang kutulisakan demi mengawali semua baris demi baris kalimat yang
kurangkangai sebagai ucapan permohonan maaf dan ucapan terimaksih karena telah
mengajarkanku sebuah pelajaran yang sangat berharga yang tidak kudapatkan
dengan orang lain. Meskipun kita belum bertemu, memohon maaf setiap salah dan
khilaf yag telah kulakukan untukmu kuharap semua yang kutuliskan ini dapat
mewakili permohonan maafku untukmu. Di manapun kamu saat ini, dengan siapapn hatimu kamu tambatkan, ku berdoa semoga kamu
dapat menemui jalan yang seperti jalan yang ketemui saat ini. Jalan di mana
kebahagiaan bisa diraih tanpa harus melanggar perintah-Nya. Dan inilah memang
kebahagiaan yang sesungguhnya. Belajarlah dengan baik jangan lupakan akhiratmu,
kita tidak selamanya hidup didunia. Menyesalah hari ini, sebelum hari esok tak
ada lagi, menangislah karena kesalahan yang telah diperbuat. Jangan berbangga
diri dengan apa yang kamu miliki saat ini dan apa yang akan kamu raih nanti.
Teruslah berkarya sahabat, tetapi jangan lupakan Allah SWT. tak ada artinya
jika semua yang kamu raih tanpa Ridho-Nya. Semoga bimbingngan-Nya selalu
menyertaimu tak perlu ragu dengan hari esok, selama masih ada malam yakinlah
pasti akan ada fajar yang menyingsing menyambut datangnya mentari pagi. Tak
perlu ragu dengan rezeki, selama masih ada kehidupan pasti akan selalu ada
harapan. Tak perlu silau dengan glamornya dunia, karena semua hanya kefanaan
belaka. Berjalanlah terus sahabat, aku akan mengenangmu sebagai guru dalam
kehidupanku.
Thanks for all